“apa lagi? Buat apa kau
menemuiku lagi? Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau kita ga bakal ketemu
lagi” tanya aku sinis setibanya dia
Wajahnya mendadak memelas, seperti meminta aku
untuk memaafkannya. Tapi aku tak peduli, rasa sakit hati dan kecewa ku
mengalahkan cinta dan kasihanku padanya.
“maafkan aku, aku menyesal”
dia mengatakan hal yang sudah bosan kudemgar.
“untuk apa? Mengapa baru
sekarang kau sesali semua ini? Terang saja aku bosan mendengar maaf dan sesalmu
itu” aku menjawab dengan acuhnya
“Ayra, kumohon maafkan
aku.”
“tak ada yang perlu
dimaafkan, aku sudah memaafkanmu dari pertama kau mengecewakanku”
“benahkah itu?”
Aku mengangguk mengiyakan,
kuharap ini semua cepat berakhir, dan semoga tak pernah lagi kutatap wajah yang
memuakkan itu.
“kau tak memaafkanku, aku
tau sifatmu.”
“kalau kau sudah
mengetahuinya buat apa kau bersusah payah meminta maaf?”
“bagaimana caranya agar
kita bisa seperti dulu lagi? Aku mencintaimu Ayra”
“dulu? itu hanya masa lalu
Raka. Semua itu sudah tak akan terjadi lagi”
Aku menaikkan nada suaraku
sehingga membuatnya diam, namun sorot matanya meminta untuk dikasihani.
“sudalah, jangan menatapku
seperti itu. Aku takkan jatuh ke lubang yang sama, aku takkan jatuh lagi ke
dalam hidupmu”
Dia hanya diam seraya
mendengarkan luapan emosiku. Terbesit lagi bayangan dia yang sedang bermesraan
dengan gadis SMA dalam sebuah mobil diparkiran mall terkenal di Jakarta. Semua itu
membuat hatiku hancur lagi, aku kembali menjadi kepingan piring pecah. Sering kali
ku berandai agar semua itu berlalu bersamanya angin, hangus bersama api
kemarahanku. Tapi aku terlalu lemah untuk itu.
Aku
menyadari diriku yang masih mencintainya, mencintai Raka yang sudah 3 tahun
terakhir menjadi alasanku menghebuskan nafas, menjadi pemilik hak penuh atas
rinduku juga cintaku. Butuh waktu yang lama untuk bisa melupakannya, namun di
tengah perjalanan dia hadir lagi dengan membawa kata maaf dan menyesal, jelas
itu mencairkan hatiku, mencairkan rasa emosi, kecewa dan rasa rinduku.
Selama
ini aku memaki, mancemooh dan juga menghujatnya dengan kata kata kasar. Namun
sesungguhnya itu sangat menyiksaku. Bagaimana mungkin aku memaki orang yang
kucintai? Meskipun dia telah menoorehkan kekecewaan.
Sempat
terbesit ingin kembali dalam pelukannya, mengulang semua yang pernah kulalui
saat bersamanya, kembali menjadi pemilik bahunya. Tapi aku kembali kepada kenyataan,
wajah gadis itu masih saja menjadi perusak semua anganku. Aku takkan pernah
kembali lagi padanya, sekuat apapun dia berusaha, sekeras apapun dia meminta.
Kuarahkan
pandangan ke wajahnya. Kulihat air bercucuran dari wajahnya. Matanya sembab. Inilah
pertama kalinya dia menangis dihadapanku, apakah ini tipu dayanya?
“Raka, kau menangis? Ini pertama
kalinya kau menangis dihadapanku. Sudahlah, tak ada guna kau menangis. Takkan mengubah
keputusanku. Menghilanglah dari hidupku”
“jika itu yang kau mau,
baiklah aku akan menghilang”
“bagus, menhilanglah untuk
selamanya dan jangan pernah kembali”
“iya, selamanya”
Mendengar itu, aku
langsung pergi meninggalkan tempat itu. Terbesit rasa bahagia karena berhasil
menyakitinya. Aku berharap dia benar benar pergi.
Tak
ada lagi komunikasi dengan Raka, aku tak pernah lagi mendengar kabarnya. Dia benar-benar
menepati janjinya.
Aku
menjalani hari-hari ku seperti biasa, aku lulus kuliah dengan nilai cumlaoud. Dan
aku diterima di perusahaan terkemuka yang memang menjadi mimpiku sejak dulu.
namun bukan berarti tak ada lagi Raka, dia masih saja dihatiku, menemani setiap
malamku apalagi ketika ku dengar lagu Dealova. Iya, lagu itu sangat bersejarah
dalam hubungan kami. Dia menyanyikan lagu itu saat dia menyatakan perasaannya
kepadaku. Memang benar kata orang, lagu itu memiliki kenangan tersendiri bagi
perdengarnya
Entah
mengapa aku merindukan kembali sosok Raka, aku terkadang iri melihat
teman-temanku bersama kekasihnya. Bukan tak ada cinta yang mendekat, tapi
hatiku masih dimiliki Raka.
“jodoh
ditangan tuhan” selalu itu yang membuatku betahan. Aku yakin akan mendapatkan
seseorang yang ditakdirkan Tuhan untukku, seseorang yang akan mengaku akulah
tulang rusuknya yang hilang.
Pagi
itu, saat aku hendak bekerja handphone ku bergetar. Nomor asing yang masuk,
firasatku mengatakan itu telepon penting sehingga kuangkat.
“ayra”
“iya, ini siapa?”
“ini mami nak”
“maminya Raka?”
“iya, mami ingin
mengajakmu keluar, adakah waktumu?”
Aku terkejut mendengar
suara yang tak asing bagiku, aku mencoba menahan emosiku agar tak meluap kepada
mami”
“mau kemana?”
“lihat saja nanti, kau
akan suka”
Mami, iya aku memang
memanggilnya mami karena dia sendiri yang menyuruhku. Dia yakin betul aku akan
menjadi menantunya saat itu.
“ini
ada surat untukmu, dari Raka”
Aku
terpaksa mengambil surat yang disodorkan oleh mami. Kubuka dan kubaca
To mydear
Ayra
Sayang, maaf jika
dengan surat ini aku kembali melukaimu. Aku hanya ingin minta maaf atas
perlakuanku di mobil waktu itu. Dia itu
sepupuku yang sengaja kuminta untuk melakukan rencana tersebut. Aku memang
sengaja melakukannya karena aku tak ingin kau menyesali kepergianku. Iya
sayang, aku sakit dan waktuku sudah tak lama lagi. Saat terakhir kali kita
bertemu aku menangis karena aku tau aku akan pergi dan tak bisa lagi menjagamu.
Kini aku patuhi janjiku, aku pergi dan menghilang selamanya sayang, kupenuhi
janjiku. Maafkan aku atas kejadian itu , maafkan aku atas kepergianku yang
begitu cepat. Jangan teteskan air matamu sayang, aku selalu bersamu, Ich liebe
dich
lovely
Raka
Dibaliknya
Aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu
Aku ingin menjadi sesuatu yg mungkin bisa kau rindu
Karena langkah merapuh tanpa dirimu
Oh karena hati tlah letih
Aku ingin menjadi sesuatu yg selalu bisa kau sentuh
Aku ingin kau tahu bahwa ku selalu memujamu
Tanpamu sepinya waktu merantai hati
Oh bayangmu seakan-akankau seperti nyanyian dalam hatiku
yg memanggil rinduku padamu
seperti udara yg kuhela kau selalu ada
Aku ingin menjadi sesuatu yg mungkin bisa kau rindu
Karena langkah merapuh tanpa dirimu
Oh karena hati tlah letih
Aku ingin menjadi sesuatu yg selalu bisa kau sentuh
Aku ingin kau tahu bahwa ku selalu memujamu
Tanpamu sepinya waktu merantai hati
Oh bayangmu seakan-akankau seperti nyanyian dalam hatiku
yg memanggil rinduku padamu
seperti udara yg kuhela kau selalu ada
hanya dirimu yg bisa membuatku tenang
tanpa dirimu aku merasa hilang
dan sepi, dan sepi
tanpa dirimu aku merasa hilang
dan sepi, dan sepi
air
mataku mengalir seperti air hujan, hatiku kacau seperti riak ombak. Penyesalanku
membanjiri benakku. Menyesal karena dipertemuan yang terakhir aku malah
memakinya bahkan menyuruhnya menghilang. Dia memenuhi janji meninggalku untuk
selamanya. Kini tinggal air mata penyesalan.
Penyesalan
untuk selamanya..
Syarifah Nadia
2 Januari 2013 , 19.31 WIB
keren :')
BalasHapushhi , makasii :)
Hapus