Sebenarnya aku sudah lelah didera rindu, tapi aku tidak boleh kalah oleh rasa yang menggebu ini, aku harus kuat. Jarak ini jangan sampai membuatku terlihat lemah. Aku selalu menguatkan ingatanku pada janji kita, disaat kamu hendak pergi ke kota lain untuk menuntut ilmu, meninggalkan aku di kota ini. Aku yakin cerita kita akan tetap indah walaupun harus ada spasi beratus-ratus kilometer yang memisahkan raga kita, tapi diantara hati kita jangan sampai ada spasi yang tercipta, begitulah kira-kira ucap raga kita yang tak berbahasa.
Satu minggu, dua minggu, satu bulan, dua bulan, hingga tak terasa akhirnya dua tahun sudah kita menjalani hubungan jarak jauh ini. Aku masih disini, ditemani kesetiaan dan keyakinan bahwa apa yang kita jalani selama dua tahun ini tidak akan berakhir sia-sia.
Sejauh apapun jarak yang memisahkan kita itu tidak masalah bagiku selama kamu selalu mengabari aku. Selama aku tau kamu disana baik-baik saja dan masih bertemankan cintaku, disinipun aku tak berani untuk mencari hati yang lain.
Entah sudah berapa siang dan berapa malam yang ku lewatkan tanpa hadirmu, tapi aku tak akan pernah jemu menunggu hadirnya wajahmu di depan mataku. Entah berapa kali aku terpaksa harus memeluk bayangmu saat aku butuh seseorang untuk kupeluk, aku masih tak peduli itu.
Tapi sayang, maafkan aku. Akhirnya naluri lelakiku mengalahkan semua komitmen-komitmen yang selama ini ku pegang teguh. Aku sadar bahwasanya aku perlu sosok yang nyata yang bisa ku dengar langsung suaranya, kuraba wajahnya dan ku peluk tubuhnya.
Bukan karena aku sudah tidak mencintaimu lagi, bukan. Ini hanya kebajinganku sebagai seorang lelaki normal. Maafkan aku sayang, sekali lagi maafkan aku kini ada dia yang selalu menemaniku disini saat kau jauh disana.
Aku tahu apa yang aku lakukan ini salah, tapi aku tak peduli karena dia membuatku bahagia, ya walaupun bahagiaku yang sebenarnya itu adalah kamu. Sampai kapanpun selalu kamu.
Kini, maafkan aku sayang jika kabar yang kukirim tak lagi sesering dulu. Aku kebingungan membagi waktu ku antara kamu dan dia. Dan akhirnya kita semakin jauh, spasi diantara hati kita semakin melebar.
Sementara aku disini dengan dia, ternyata disana pun kau sudah ada yang menemani. Ya semua yang terjadi kini memang salahku. Biarlah sejenak kita mencari kebahagiaan lain bersama seseorang yang baru tanpa harus saling berkabar dan bertemu.
Sayang, sekarang aku sadar ternyata dia tidak sebaik kamu. Aku ingin kembali lagi padamu, bolehkah aku?. Bak gayung bersambut akhirnya kau pun menerimaku kembali, ah aku tau rasa sayang diantara kita memang tidak akan hilang.
Tapi kini aku harus sadar diri, posisi aku tak lagi seperti dulu. Aku bukan yang utama di hatimu, aku bukan lagi prioritas cintamu. Aku hanya bayang-bayang diantara kamu dan dia. Ya dia, pria yang hadir di hidupmu karena keteledoranku yang mengabaikanmu hingga akhirnya kamu mencari tempat lain untuk meyandarkan hatimu, dial ah orangnya.
Kamu bilang sebentar lagi kamu akan bertunangan dengan dia, aku bisa apa? Melarang aku tak berhak. Aku sadar akulah yang salah, aku yang sudah membuang-buang airmatamu karena keegoisan hasrat lelakiku, aku yang sudah sering melukai hatimu karena pengkhianatanku.
Kini aku harus membuang jauh-jauh keegoisanku, aku harus ikhlas kamu bukan untukku lagi. Walaupun aku tau kamu masih sayang dan aku juga masih menyayangimu, kini yang harus kamu bahagiakan bukan aku, tapi dia.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain berdoa untuk kebahagiaanmu. Kamu harus bahagia dengannya, jangan sampai percuma aku melepasmu untuknya. Biar aku disini saja, menjadi penonton hidupmu.
Aku harus pergi, bukan karena sudah tak ingin lagi memikirkanmu. Aku hanya tidak ingin menjadi penghalang kebahagiaanmu. Sudahlah, tak usah lagi kamu mengkhawatirkan aku, aku baik-baik saja selama kamu bahagia.
Kini aku akan menikmati kesendirianku ini, sambil sesekali merenungi semua kebodohanku yang dulu menyakitimu. Tahukah kamu, sampai saat ini aku belum bisa mendapatkan seorang yang pantas menggantikan kamu di hatiku? Ya seistimewa itulah kamu untukku.
"terbanglah setinggi langit, bila kau jatuh kau akan jatuh bersama bintang bintang" - Ir. Soekarno~
Rabu, 14 Januari 2015
Ldr
Jumat, 09 Januari 2015
yang aku tau, aku benci melepasmu :'
sampai saat aku menuliskan cerita ini, aku masih dalam keadaan sangat mencintai kamu. tapi aku sedang berada dalam situasi yang tidak kamu ketahui, situasi yang tidak menginginkan aku dan kamu menjadi kita lagi. sungguh aku tak ingin kita berakhir seperti ini, disini aku menderita tak tahu apa yang harus aku lakukan. segala cara telah aku pikirkan, tapi tak ada yang bisa membuat aku bahagia seperti dulu lagi.
maafkan aku, seharusnya kita berakhir bahagia , tidak seperti ini, tak seharusnya semua berakhir seperti ini.
aku menyayangi kamu, itu yang harus kamu tahu. aku tak pernah bermain-main dengan perasaan ini. aku mencintai kamu, mungkin lebih besar daripada yang kamu bayangkan dan juga lebih besar dari cintamu padaku.
Sayang bantu aku keluar dari rasa sakitnya merindukanmu, tolong beritahu aku, apa yang harus aku lakukan ? aku tersiksa dengan semua perasaan ini, aku ingin bersamamu, tapi kenyataannya seperti ini. aku disini hanya bisa berharap tanpa bisa melakukan apa-apa. aku bagaikan seorang pengecut. aku benci keadaan ini. aku benci
haha
kita baru kenal mungkin dalam hitungan bulan, kamu datang menawarkan persahabatan hangat yang membuat ku nyaman, disampingmu aku seperti mawar yang sedang mekar, indah dam harum.
rindu dan cemburu pun mulai ku rasakan hadirnya hingga aku tak tahu harus mengartikan ini apa, nyaman sebagai sahabat atau malah aku mencintai dirimu.
kamu selalu bilang bahwa aku adalah orang paling istimewa bagimu, tapi istimewa dalam hal apa? cintakah atau sahabat? kamu nggak pernah bilang, kamu nggak pernah jelasin.
aku pun makin lama makin nyaman dalam ketidakjelasan ini , aku udah pernah mikirin ini apa yang penting aku sama kamu. aku gamau kamu pergi, gamau kehilangan kamu.
Lama lamacaku rasain ada yang hilang dari cerita kita, kamu mulai berubah, gak kayak dulu lagi, kamu mulai gada kabar, kamu juga udah gak punya waktu untuk aku, aku mulai kehilangan kamu.
sampek akhirnya kamu ngabarin aku, seneng banget rasanya walaupun cuma basa basi aja. Tapi bahagianya aku harus berujung dengan nangis nahan cemburu, kamu bilang kamu punya pacar, dan pacar kamu gamau kita deket lagi, pacar kamu ga suka sama aku, dan kamu nurutin itu semua, kamu tegaaa :(
tapi aku terima dengan mulai membiasakan diri gada kabar dari kamu walaupun aku masih kepoin kamu dari manapun. aku lihat foto foto kamu sama pacar kamu, aku gak cemburu sih cuma kangeen tau kan sakitnya mendam kamgen itu gimana?
sebulan duabulan aku udah bisa tanpa kamu, aku pun udah ga sering lagi kepoin kamu, aku juga sadar kalo hubungan kita ga jelas jadi wajar aja kalo kamu ninggalin aku dengan cara yang gak jelas juga.
setahun udah berlalu, aku udah bener bener move on dari kamu tapi kamu mulai add facebook ku lagi , follow twitterku lagi minta pinku lagi. tepatnya kamu mulai cari perhatianku lagi.
kamu kan tau aku wanita super, yang gak gampang jatuh ke pelukan orang yang sama lebih dari sekali, aku gak mau dekat kamu lagi.
kamu nyesal kan tinggalin aku? sampek kamu balik lagi nyari aku? atau kamu cari pelampiasan aja? maaf aku bukan aku yang bisa nerima kamu lagi :')